4 Tips Sebelum Penerjunan KKN (Kuliah Kerja Nyata)

Titipku – Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu kegiatan wajib dari kampus-kampus yang ada di wilayah Yogyakarta. Mahasiswa Jogja sangat tidak asing dengan istilah ini bahkan sampai gambaran kegiatannya seperti apa. KKN identik dengan “dilepasnya” mahasiswa-mahasiswa ke desa-desa yang bertujuan agar para mahasiswa itu dapat melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Sebagai generasi terdidik, harapannya mahasiswa itu dapat memberdayakan masyarakat yang ada di sana.

Mahasiswa yang kuliah di Jogja mengalami kegiatan KKN ini. Kampus lain di luar Jogja pasti banyak juga yang memiliki program KKN. Biasanya di semester 6 atau semester 7. KKN juga masuk ke dalam mata kuliah wajib. Rentang waktunya juga lumayan lama. Mahasiswa KKN akan hidup membaur dengan warga desa dimana mereka ditempatkan selama 1-2 bulan. Lama waktu KKN tergantung pada kebijakan tiap-tiap universitas.

nstagram via @anjingtua_

Tak sedikit mahasiswa yang akan menjalani KKN menganggapnya sebagai momok. Bayangan akan hidup di desa terpencil, susah sinyal, dan jauh dari peradaban, biasanya dikeluhkan. Kehidupan di KKN bisa sangat kontras bagi mahasiswa yang terbiasa hidup di keramaian, kemana-mana gampang, mau makan aja juga tinggal cuss.

Bagi teman-teman yang akan menjalani KKN kami membagikan sedikit tips. Semoga bermanfaat dan tidak lagi menganggap KKN sebagai cobaan Tuhan. Oke, dua kalimat terakhir terkesan berlebihan. Hehe

You need to calm down

Kalem. Calm down, kalau kata Taylor Swift. Tidak perlu merasa sangat menderita jika pengumuman penempatan KKN sudah keluar hasilnya. Tempat KKN kalian kelihatannya terpencil. Apalagi setelah diriset, keterpencilan itu benar adanya. Kalau bagi mahasiswa Jogja, tempat-tempat yang biasanya dianggap ngeri antara lain Gunung Kidul (panas, kekeringan, susah sinyal, di gunung, dsb), Wonogiri (susah sinyal, jauh dari peradaban terutama jauh dari Jogja, dsb), Blora (Panas!, banyak kotoran sapi, jauhhhh bangeett, dsb), dan Purworejo & Temanggung (Dingin, susah sinyal, jalannya naik turun, dsb). Kebanyakan memang yang ada di luar Jogja. 

Tetap tenang teman-teman. Kalian tidak sendiri dan tidak ngenes. Tetaplah berpikir positif. Anggap saja kalian akan mendapatkan pengalaman baru dengan lingkungan yang baru untuk hidup merakyat. Di desa yang jauh dari keramaian malah dapat dijadikan sebagai refreshing juga, bukan?

Kalian ditempatkan disana juga tidak sendiri. Ada teman satu kelompok kalian yang akan bersama kalian 24 jam selama berminggu-minggu. Kalau ada keluhan di awal, boleh kok sambat-sambat. Tapi alangkah lebih baik jangan terlalu lama. Segalanya yang diawali dengan tidak ikhlas dan kegelisahan akan berdampak kurang baik ke depannya. You’re not alone, Ferguso!

Instagram via @arroyhan

Kenali teman satu kelompok 

Dalam satu kelompok KKN, biasanya terdiri dari 10 orang. Satu kelompok itu akan selalu bersama dalam misi pengabdian kepada masyarakat. Nah, perlu komunikasi dan kekompakkan supaya kalian dalam satu kelompok itu dapat bertahan hingga akhir. 

Awalnya satu kelompok itu bahkan tidak saling kenal. Dikarenakan berasal dari jurusan dan fakultas yang berbeda. Maka dari itu, perlu lah perkenalan. Agendakan pertemuan full team setelah pengumuman kelompok KKN keluar. Tapi untuk mengumpulkan itu tidak mudah memang. Harus ada yang aktif untuk mencari informasi kontak calon teman satu rumah itu. Tidak masalah lho, kalau kalian yang menjadi pihak aktif itu. Tidak perlu gengsi. Setidaknya kalian sudah beritikad baik untuk menyatukan calon “keluarga”.

Buat grup whatsapp. Ini juga sangat penting di jaman sekarang. Awal-awal mungkin masih sepi dan hanya berisi perkenalan. Kadang juga dianggap cuma basi-basi. Tapi percayalah, grup ini akan sangat amat berarti untuk kehidupan KKN kalian, gaess. Melalui grup ini pula agenda pertemuan perdana dapat dilakukan. 

Saat pertemuan perdana itu bisa dijadikan tempat untuk saling mengenal. Agak sok asik tidak apa-apa. Kalau di awal masih pasif, juga tidak apa-apa. Masih ada waktu untuk membaur. Tetap jalin komunikasi. Biasanya sebelum penerjunan KKN, kalian akan disibukkan dengan agenda-agenda berbau KKN. Mulai dari pembekalan KKN, ujian KKN, kerja kelompok KKN, pertemuan dengan DPL (Dosen Pembimbing Lapangan), pembahasan proker, dan lain-lain. 

Kenali DPL kalian dengan baik

DPL sempat disinggung sebelumnya. Lebih jelasnya, DPL adalah dosen yang akan menjadi pembimbing kelompok KKN sebelum, saat, dan setelah KKN hingga nilai KKN keluar. DPL pula yang berhak mengeluarkan nilai KKN di siakad (Sistem Informasi Akademik UNY). Teknisnya, DPL adalah pembimbing KKN sekaligus media komunikasi antara mahasiswa KKN dengan LPPM/ kampus. Jadi, penting bagi tiap kelompok KKN untuk berkoordinasi dengan DPL. 

Penting bagi setiap mahasiswa KKN untuk mengenal DPL masing-masing. Jangan sampai tidak. Tanda tangan DPL sangat penting nantinya, gaess.

Pada kenyataannya, sifat-sifat setiap DPL pun bisa berbeda-beda. Ada yang humoris, luwes, fleksibel, perfeksionis, kaku, galak, hingga ogah-ogahan. Keberuntungan kalian jika mendapat DPL yang humoris dan fleksibel. Tipe DPL yang demikian akan membuat kalian tidak tertekan. Wkwk. 

Tetapi sifat asli tiap-tiap DPL akan terlihat ketika sudah kenal. Ketika sudah bertemu beberapa kali dan mengalami sendiri bagaimana mereka memperlakukan kalian. Meski pada awal memang sudah ada banyak DPL yang sudah kelihatan sifat aslinya. 

Apapun sifat dan karakter kalian, hadapi DPL kalian dengan bijak ya. Segalak apapun, sekaku apapun, sedikit baik dimuka tidak apa-apa. Yang penting nilai KKN kalian nanti keluar dengan nilai A. Hehe.

Survei lokasi KKN

Penting pula untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya lokasi KKN kalian. Di situlah nanti kalian akan beraktivitas layaknya warga biasa, membaur dengan masyarakat setempat. Bahkan seolah menjadi warga asli sana. Riset awal perlu dilakukan. Mulai dari tanya-tanya google, teman, hingga keluarga untuk mengetahui gambaran desa yang bersangkutan. Setelah itu, agendakanlah untuk datang ke sana. Supaya kalian dapat mengetahui akses menuju ke sana dan keadaan masyarakat di sana. 

Kepala desa adalah tokoh yang tepat untuk kalian temui di sana. Dikarenakan satu tokoh itu cukup mengenal warganya, sehingga dapat memberikan informasi kepada kalian tentang keadaan desanya. Dari pertemuan ini, kalian juga bisa mendapat gambaran untuk membuat program kerja yang tepat. Oh iya, kenali juga staff-staff kantor desa. Mereka juga akan berperan cukup penting selama kalian KKN di sana. 

Setelah kepala desa, temuilah kepala dusun. Pada bagian ini lebih spesifik, karena berkaitan dengan dusun tempat “rumah” kalian berada. Informasi juga bisa lebih detail tentang kondisi dan potensi masyarakat. Jika kepala dusun sedang tidak sibuk, mintalah dengan sopan untuk berkeliling dudun. Supaya gambaran tentang dusun tempat KKN bertambah jelas. 

Saat bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat, bersikaplah sopan. Dimanapun itu sebenarnya. Termasuk jika kalian berpapasan dengan warga setempat. Pasang smiling face. Biasanya warga desa sangat respect pada mahasiswa KKN yang ramah dan murah senyum.

Eits, yang tidak boleh lupa. Cari tahu akses menuju pasar, klinik kesehatan, tempat print dan fotocopy, dan swalayan. Beberapa tempat itu penting saat KKN nanti. Meski saat sudah penerjunan, seiring lamanya disana, kalian akan semakin hapal akses-akses tempat di sekitar sana.

Selamat KKN bagi yang akan menjalankan! 

By the way, di desa-desa biasanya masih banyak usaha skala Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Nah, jadi kesempatan emas bagi kalian untuk memanfaatkan Titipku. Produk-produk UMKM masyarakat di sana dapat naik kelas, karena semakin dikenal melalui platform digital. Anak-anak muda juga semakin memiliki referensi mengenai produk lokal. Dengan begitu, pangsa pasar UMKM semakin meluas.

Boleh juga mengenalkan UMKM setempat dengan Titipku. Aksi ini dapat menjadi salah satu literasi digital terhadap masyarakat, lho. Dikarenakan, kalian memberikan pemahaman dalam memanfaatkan teknologi digital dengan bijak. 

Mau jelajah produk di lokasi KKN?

Boleh sekali.

Menjadi jatiper di lokasi KKN?

Sangat boleh.

Dimanapun kamu berada, tidak akan membatasimu untuk berkontribusi.

Ayo Menjelajah!

Artikel kiriman dari Rima Trisnayanti

Penulis: Setya

pembelajar penyuka seni, juga literasi

Tinggalkan Balasan