Kisah Mbah Jum, Penjual Wajik dan Jenang Pasar Godean

mbah jum, mbah jum penjual wajik, mbah jum penjual wajik dan jenang, wajik dan jenang pasar, pasar Godean, pedagang pasar godean, penjual pasar godean,

Titipku.com – Bagi yang gemar wisata dengan jalur ke arah Kulon Progo, pasti tidaklah asing menilik pasar Godean yang letaknya berada di kanan jalan kalau dari arah Jogja kota. Pasar Godean menjadi salah satu pasar tradisional dengan pedagang-pedagang yang ramah dan terbuka. Kebetulan tim Titipku berkesempatan jelajah pasar Godean ini dan menjumpai salah satu pedagang yang membuat trenyuh hati. Beliau mbah Jum, penjual wajik dan jenang pasar Godean.

Mbah Jum Sudah Cukup Tua

Mbah Jum, begitu sapaan dirinya saat berkenalan dengan kami. Sembari menunggu pembeli datang, beliau menta wajik, jenang (dodol). Dan sesekali memastikan pembelinya berhenti dan menanyakan dagangannya.

Asalnya dari utara pasar. Alamat yang hampir sama dari bu Ponirah, penjual kembang tabur pasar Godean itu. Ternyata memang kebanyakan pedagang di pasar ini berasal tidak jauh dari pasar Godean. Berbeda dari kisah pedagang pasar Giwangan, pak Slamet yang asalnya cukup jauh dari pasar Giwangan, tempat beliau berjualan sayuran.

Mbah Jum ini Mulai berjualan 8 sampai jam 1 siang. Sehabisnya saja. Bicara soal penghasilan, seharinya mbah Jum ini tidak pasti. Terkadang bisa hanya dapat 100 ribu. Tapi masih pengahasilan kotor. Yang mana dari hasilnya ini akan dibelanjakan lagi segala macam bahan untuk wajik dan jenangnya.

“Sisanya paling hanya 15 ribu rupiah saja, buat makanan, buat lauk.”

Seharinya, mbah Jum menyusur jalan dari rumah ke pasar dan sebaliknya berjalan kaki. Kalau nggak capek, katanya. Karena dari pasar ke rumah ia hitung hanya sekitar 5 menit. Entah hanya perasaan menitan beliau saja atau bagaimana. Yang jelas, nenek usia 76 tahun ini tidak terlihat mengeluh atas keadaannya. Lagi lagi, guru belajar yang baik untuk kami yang masih muda.

Di sela-selanya melayani pembeli, kami menilik soal harga wajik dan jenang yang dijualnya. Ada banyak lembaran wajik siap potong. Untuk jenangnya ngga bisa ngecer. Harus beli sekilo dan harga sekilonya 50 ribu.

Candanya kembali mengejutkan kami manakala kami tahu bahwa latar belakang beliau ini ternyata adalah seorang penyanyi!

“Aku ini ya penyanyi ngendi ngendi, penyanyi keroncong. Angkatane pak Sukmandono nang RRI, pak Imam. Cuma mereka sudah ngga ada. Gatau lainnya ngga pernah ketemu lagi.”

Di masa sendirinya tanpa suami, ia ditemani oleh anak cucunya di rumah. Suaminya baru meninggal 1 tahun yang lalu, bulan Agustus. Begitu ceritanya secara gamblang kepada tim Titipku.

Harga Wajik dan Jenang Bu Jum

Seperti yang barusan kita tahu, untuk jenangnya tidak bisa di ecer. Hanya wajiknya saja yang dihitung per potong 1000 rupiah saja. sementara untuk jenangnya, jenang krasikan 45 sekilo. Begitupun dengan jenang merah 45 kg.

“Kalau yang ini memang belum pesenan, tapi kalau di ecer nggak bisa. Kalau mau buat mantenan bisa. Jadinya belinya kan nanti setengahan ini, krasikan, baru boleh.” Begitu jelasnya sembari menunjukkan jenis jenang yang diperkenankan untuk dibeli kiloan.

Sudah Puluhan Tahun Berjualan

Berjualan wajik dan jenang ini bukan waktu yang baru bagi mbah Jum. Beliau menjajakan dagangannya ini sudah sejak tahun 1957, sejak ia berumur 17 tahun. Sudah lama jualannya.

“Iya sudah lama, sejak tahun 57. Waktu itu saya masih berumur 17 tahun. Setelah itu saya menikah, dan umur 20 tahun sudah punya anak.” Imbuhnya.

Kami menjadi salah satu yang beruntung bisa belajar arti semangat dari beliau. Karena ternyata sudah banyak juga yang ke lokasi untuk bertemu dengan mbah Jum yang ramah ini. Beruntung bagi kami ikut bisa meniti kisah yang sama.

Dari mbah Jum, sepenggal kisah yang sangat berarti.

Yuk titip beli apa saja dari pasar, kami anterin ke rumahmu!

Ayo tetap majukan kesejahteraan anak bangsa dengan meramaikan dagangannya bu Jum ini. Kalau kamu tidak sempat, kamu bisa membeli dagangan bu Jum ini via Titipku. Dengan kamu membeli dari pedagang pasar, secara otomatis kamu telah mendukung tulang punggung Indonesia dalam memajukan perekonomian bangsa. 🙂

Penulis: Setya

pembelajar penyuka seni, juga literasi

3 thoughts on “Kisah Mbah Jum, Penjual Wajik dan Jenang Pasar Godean”

Tinggalkan Balasan