Sejenak Bijak Bersama Titipku Seri 3: Keluar Dari Jerat Nasib Miskin

keluar dari jerat nasib miskin

Titipku.com – Dalam salah satu video yang dishare oleh teman-teman saya di WhatsUp Group ada video yang menyentuh hati. Yang menceritakan tentang nasib orang tua yang tidak diperdulikan oleh anak-anaknya. Seorang Ibu yang sudah lanjut usia mengalami hidup terlunta-lunta, karena sang anak yang dibesarkan dari kecil dengan penuh kasih sayang malah mencampakkan sang Ibu karena kehadiran sang Ibu membuat pikiran sang anak menjadi berat. Sang anak sudah mempunyai problem sendiri di pekerjaan, rumah tangga sehingga kehadiran sang Ibu dirasa sebagai sampah penambah beban saja.

Video tersebut memberikan hikmat dan ingin menyadarkan generasi muda bahwa semakin maju dunia digital maka semakin tipis rasa kasih seorang kepada sesamanya bahkan dengan keluarganya sendiri.

Di sisi lain saya mencoba merenungkan, bagaimana jika saya nanti pada posisi seperti sang Ibu dan mengalami nasib yang sama? Apa yang akan saya lakukan? Apakah saya bisa menyiapkan masa depan saya sendiri sehingga saya tidak menjadi beban dari anak-anak saya pada saat saya sudah menjadi tua? Persiapan mental apa yang harus saya lakukan dari sejak sekarang?

Perenungan inilah yang membuat saya mengerti bahwa kehidupan ini selalu punya dua sisi. Saya tidak menyalahkan sang anak dan tidak menyalahkan sang Ibu. Roda nasib kehidupan sering menggiring banyak orang seakan-akan nasib tidak bisa dikendalikan, yaitu menjadi tidak berdaya pada masa tua. Kita berharap pada masa tua kelak anak-anak kita bisa berhasil sehingga dapat menampung kita. Anak dilihat sebagai investasi, sehingga muncul pandangan bahwa banyak anak banyak rezeki. Meskipun saat ini orang-orang mulai sadar bahwa banyak anak ternyata membuat hidup semakin berat namun harapan bahwa anak sebagai investasi untuk tempat bergantung di masa depan masih banyak dipercaya orang.

Simpul Persoalan Nasib

Masalah yang terjadi ternyata adalah simpul persoalan nasib yang malah makin parah. Ada yang mengalami kehidupan berat karena anak-anak tidak berhasil mencapai cita-cita yang diinginkan. Malah anak menjadi beban bagi sang orang tua sampai sang anak sudah tuapun ternyata sang anak tetap menjadi beban. Di sisi lain bisa juga terjadi orang tua mengalami masalah keuangan karena berbagai hal mengakibatkan beban itu ditanggung oleh anak-anak yang belum siap, sehingga cita-cita sang anak menjadi kandas. Akhirnya baik orang tua maupun sang anak sama-sama terjebak dalam jurang nasib buruk yang dalam dan  tidak bisa keluar dari sana.

Di negara kita dengan tingkat pendidikan yang rendah di masa lalu memang banyak memunculkan problem sosial di atas. Seperti drama sinetron, banyak kita temukan keluarga-keluarga yang demikian. Kurangnya pengetahuan, keahlian, edukasi serta persiapan perencanaan masa depan membuat generasi ke generasi mengalami nasib yang sama.

Sewaktu masih bertenaga, kita merasa bahwa kita tidak perlu khawatir akan masa depan, sehingga tidak mencadangkan apapun. Tidak jarang kita lihat masyarakat kita bekerja keras membanting tulang, menghadapi debu dan asap atau larut malam seakan-akan sangat perkasa. Sehingga meraka merasa berhak untuk menghabiskan semua penghasilan dengan alasan menikmati hidup, mumpung masih sempat, bahkan sampai jalan-jalan keluar negeri pakai hutang. Banyak dari mereka yang hidup sekali tanpa persiapan masa depan dan akhirnya badaipun datang. Misalnya tiba-tiba penyakit menyerang badan, sanak saudara yang bermasalah dan harus dibantu, dipecat dari pekerjaan dan penghasilan tiba-tiba berhenti, dikejar-kejar oleh penagih hutang dan akhirnya stress, lalu kesepian.

keluar dari jerat nasib miskin titipku

Perencanaan atas semua aspek kehidupan harus kita lakukan agar kita memperoleh kondisi kehidupan yang seimbang. Kesuksesan karir, keharmonisan rumah tangga, kesehatan, pelayanan sosial, dan kehidupan kerohanian semuanya harus berjalan seimbang dan harus direncanakan setiap saat. Selalu menyediakan tabungan masa depan. Bukan tabungan dalam arti uang saja, namun tabungan dalam arti luas. Menabunglah dalam aktivitas rohani, menabunglah dalam kesehatan, menabunglah dalam keharmonisan keluarga dan lain-lain.

“Kita tidak bisa sempurna dalam melakukan perencanaan hidup, namun siapapun yang melakukan perencanaan masa depan dipastikan mempunyai nasib yang lebih baik dibandingkan dengan orang-orang yang tidak mempersiapkan perencanaan masa depan.”

Jika sang Ibu merencanakan masa depan dengan baik sejak muda, maka seharusnya ia bisa mendidik anak untuk mengerti arti kasih yang saling memberi perhatian. Selain itu, menabung uang meskipun sedikit demi sedikit. Sehingga sang anakpun menyiapkan masa depan yang baik, memilih pasangan hidup yang benar, menabung kebijaksanaan. Keduanya, sang anak dan sang Ibu akan menemukan bahwa mereka bersama-sama merasakan arti keluarga yang sukses, bahagia dan penuh kasih.  Tidak perlu ada satu yang terluka.

Bersama Titipku untuk Masa Depan

Salah satu misi Titipku adalah membantu para penggunanya mempersiapkan masa depan di aspek perencanaan keuangan. Titipku mempunyai visi untuk mendukung jutaan generasi muda keluar dari perangkap kemiskinan turun temurun. Inilah sebabnya Titipku mengeluarkan program voucher yang memberikan kesempatan kepada para pengguna terutama genarasi muda. Yang mana secara tidak langsung menjadi pemilik PT Terang Bagi Bangsa yang menjalankan aplikasi Titipku. Setiap anak muda yang aktif membantu UKM melalui aplikasi Titipku diberikan apresiasi berupa voucher yang kelak dapat ditukar menjadi saham kepemilikan atas PT Terang Bagi Bangsa. Semakin aktif generasi muda menggunakan TItipku maka semakin banyak voucher saham yang dikumpulkan.

Titipku cukup optimis akan masa depan bahwa Titipku akan berkembang pesat bersama dengan dukungan para anak muda yang menjadi pemegang saham lewat voucher saham ini. Jika Titipku berkembang, maka nilai saham akan naik. Sehingga di masa depan para generasi muda ini memiliki cadangan investasi yang besar. Puji syukur apabila kenaikan harga saham itu mampu menjadikan mereka lebih makmur dan siap ketika masa tua.

Memang saat ini Titipku masih kecil. Namun seperti Facebook dulu masih kecil dan diremehkan pada awal kemunculannya, atau seperti Alibaba yang mengalami masa-masa sulit di masa kehadirannya, ternyata saat ini menjadi sangat besar dan menghantarkan para pendirinya menjadi orang-orang terkaya di dunia karena lonjakan harga saham yang sangat fantastis. Maka Titipku percaya bahwa hal yang sama dapat terjadi dengan Titipku apabila mendapat dukungan dari para penggunanya. Dan sangat indah jika kenaikan harga saham TItipku ini dibagi-bagikan kepada para generasi muda yang saat ini aktif bersama-sama membantu membangun UKM Indonesia melalui program voucher saham. Menyiapkan jutaan generai muda milenial yang lebih matang dan Makmur. Memang penuh tantangan karena anak mda sekarang lebih suka belanja barang promo BEBAS ONGKIR daripada voucher saham. Tapi siapa tahu, bahwa ternyata Anda generasi muda yang berbeda!!

Penulis: Setya

pembelajar penyuka seni, juga literasi

Tinggalkan Balasan