Biar Nggak Salah, Ini Perbedaan Soto dan Coto

Sebagai negara yang kaya akan rempah-rempah, Indonesia memiliki banyak sekali varian soto. Yup, meskipun isinya hampir sama, namun setiap daerah di Indonesia memiliki soto dengan keunikannya masing-masing. Yang membedakan varian soto biasanya adalah dari segi kuahnya. Soto Betawi berkuah agak kental karena menggunakan santan. Lalu soto di Jawa Tengah berkuah bening karena menggunakan kaldu ayam. ada juga Soto di Jawa Timur berkuah kuning karena menggunakan kunyit. 

Lain halnya dengan di Makassar, sotonya berkuah pekat dan tidak disebut soto, melainkan coto. Wah, sebuah keunikan tersendiri nih. Meskipun sama-sama makanan berkuah, ternyata soto dan coto beda banget lho! Apa saja sih bedanya? 

 

Sejarah

Dilansir dari phinemo, soto ternyata merupakan kuliner asal Tiongkok yang dibawa ke Indonesia. Dalam bahasa setempat, soto dikenal dengan nama caudo atau tsháu-tōo. Soto awalnya lebih dikenal di Semarang karena dipopulerkan oleh imigran yang berasal dari Tiongkok pada masa kolonial VOC, sekitar abad ke-17. Sering berkembangnya zaman, soto mulai berkembang dari segi rasa dan isi tergantung dari daerah masing-masing. 

Nah, lain halnya dengan Coto Makassar, ternyata coto sudah lebih dulu ada pada masa Kerajaan Gowa di abad ke-16 (dilansir dari Wikipedia). Coto menggunakan daging sapi, berbeda dari soto yang bisa menggunakan daging sapi ataupun ayam. Awalnya, coto yang berisi daging sapi sirloin dan tenderloin hanya disajikan bagi keluarga kerajaan saja, sedangkan bagian jeroan lainnya disajikan untuk abdi dalem kerajaan atau masyarakat kelas bawah. Sekarang, semua kalangan masyarakat dapat menyantap coto, baik daging maupun jeroannya. 

Kuah

Kuah soto yang berasal dari Jawa, umumnya berwarna sedikit bening, tidak pekat. Meskipun menggunakan santan (Soto Betawi) atau kunyit (Soto khas Jawa Timur), kuahnya masih sedikit tembus pandang. Kamu masih bisa melihat sedikit isi dari soto yang kamu santap. 

Pada Coto Makassar, kuahnya lebih pekat jika dibandingkan dengan soto dari Jawa. Hal ini disebabkan karena Coto Makassar menggunakan kacang tanah yang sudah disangrai (digoreng tanpa minyak), kemudian dihaluskan sebagai bahan dasarnya. Itulah mengapa kuah coto menjadi lebih pekat dan lebih bertekstur. 

Penyajian

Soto memiliki banyak sekali isi, seperti tauge, bihun, kol, dan daging ayam ataupun sapi lebih sering disantap bersama nasi, baik dicampur ataupun dipisah. Tidak lupa juga aneka sate dan gorengan juga disediakan sebagai lauk. Kecap, sambal, garam, dan jeruk nipis juga disediakan untuk ditambahkan ke dalam soto sesuai selera. 

Coto hanya berisi daging sapi saja, tidak ada isi sayuran lainnya. Selain itu, Coto Makassar disantap bersama ketupat, atau buras khas Makassar. Meskipun bisa disantap dengan nasi, namun rasanya tentu saja akan lain. Sebagai tambahan, kecap, jeruk nipis, daun bawang, dan bawang goreng biasanya juga turut ditambahkan ke hidangan coto agar rasanya lebih nikmat.

 

Ternyata beda banget ya soto dan coto. Meskipun merupakan hidangan khas Makassar, kamu dapat menemukan warung-warung Coto di daerahmu lho! Caranya gampang banget, cukup unduh Aplikasi Titipku dan cari warung Coto terdekat. Gak perlu takut harus keluar rumah di masa pandemi karena Jatiper akan mengantarkan Coto sampai rumahmu. Mumpung ada promo HARTIPNAS nih, yuk segera belanja lewat Titipku

Tinggalkan Balasan